Jumat, 06 Mei 2011

Anak Desa Dari Pelosok




Hidup dipinggiran pantai yang indah alami tanpa rekayasa manusia,sebuah perkampungan di pelosok sulawesi utara, dedaunan nan hijau pepohonan yang rindang dengan sungai berbatu hitam air yang jernih tak akan kulupakan kemanapun aku pergi walau ke ujung dunia ini,sebuah desa kecil yang mempunyai luas hanya satu kilometer persegi.

semenjak masa kecilku aku hidup disini dengan nyaman,tentram bersama keluarga ,teman ,kerabat lainya segelintir pengalaman semasa kecil menghiasi isi hati ini seakan kita kembali pada jamanya...oh indanya masa itu disaat bulan purnama datang di keheningan malam dengan sorak-soran anak desa menyambutnya bagaikan surga di siang hari, terikan senang bangga bermain di bawah cahaya rembulan menambah semangat hidup.
seperti  biasanya anak desa yang lugu bermain di alam bebas tanpa mengenal permainan modern seperti pada anak di jaman ini.
keesokan harinya cahaya fajar terbit sang bumi menampakan sinar terangnya,tidak lupa melaksanakan aktivitas sehari-harinya sebagai anak sekolah yang kepingin menuntut ilmu setinggi -tingginya.
walaupun sulit menempu perjalan ke sekolah dengan melewati rintangan anak sungai tak akan gentar menyerah demi cita-cita, bergegas bangun dari tidur berganti pakayan putih-merah tak lupa peralatan tulis meulis walaupun hanya di kantongi dalam saku celana.

sesampai di sekolah sang guru menyambut muridnya dengan kata selamat datang siswa/wi  tuntutlah ilmu setinggi-tinginya agar di kemudian hari kita tidak menjadi samapah masyarakat "lontar sang guru
kata ini langsung terekam dalam otakku,mungkin benar sekali apa yang dikatakan sama sang guru,sebuah ucapan membuat aku termotivasi untuk belajar sampai kapanpun.
waktu berganti hari, haripun berganti tahun tak terasa dunia cepat berjalan kita kejenjang lebih dewasa  lagi,ingin belajar ke tingkatan lebih tinggi lagi walaupun hanya di modali ekonomi pas-pasan tak akan menyerah pantang mundur demi cita-cita dan masa depan yang cerah.

kost- kost
anak kampung pingin mengijakan telapak kakinya di kota mulanya terasa kaku udik dengan pergantian siklus kehidupan kota yang penuh keramain dan modern tak seperti biasanya di desa.
akupun segera beradaptasi  dengan kehidupan di lingkungan sekitarnya, tahapan demi tahapan kucoba lewati yang pertama saya belajar adalah berkomonikasi itupun lidanya masih sering keseleo,harap maklum karena terbisa berbahasa daerah di kampung , saya pun berusaha tidak salah tapi salah juga dan akhirnya menjadi bahan tertawaan teman-teman...tapi bagiku itu tak apa-apalah namanya juga belajar, tak terasa waktu berjalan pada waktunaya kita bisa beradaptasi,teman-temanpun yang dulunya tidak saling mengenal menjadi sahabat dekat bahkan seperti keluarga sendiri.

terjerumus dengan teman yang nakal.
setelah setahun lebih bergaul berbaur dilingkungan kota ,teman pun bertambah banyak tak terasa kita masuk dalam tahapan proses masa transisi,imanpun mulai tergoya satu persatu .
mungkin ini namanya pengaruh lingkungan ,pergaulanpun semakin bebas mulai terlibat dalam hal negatif , saya berpikir apakah ini tantangan hidup bagiku,,,saya coba menjalani apa adanya didepanku biarpun ini bersifat buruk,narkoba ,miras,,bahkan berbuat anarkis  telah kualami , ini merupakan kenakalan remaja yang sempat mampir dalam hidup hatipun berpikir berulang-ulang kali untuk keluar dari sisi gelap dunia ini.

tanpa kita sadari perbuatan yang negativ pernah kita lakukan itu membuat konyol dan bisa merusak masa depan , terlintas di bena pikiranku apakah kita terus begini atau berubah lebih baik lagi...akupun memilih kearah positif mumpung hati kita masih di buka oleh tuhan,
setelah menyelesaikan pendidikan menenga atas kita pun menentukan  untuk sekolah lebih tinggi lagi yaitu ke universitas..mendengar hasil kelulusan yang nilainya cukup memuaskan hati terasa senang dicampur sedih, semua teman-teman seangkatan pada sibuk mengurus form2 masuk perguruan tinggi aku malah binggung mau kemana setelah lulus sekolah menengah atas,hati pun terasa iri melihat teman-teman yang lanjut sekolah ke pergurauan tinggi,yang didalam hati ingin seperti mereka juga.
dengan keterbatasan ekonomi orang tua yang lemah tak mampu menyekolakan anaknya akupun pasrah dengan kehidupan ini,tapi saya tetap tegar mencari ide supaya bisa lanjut kesekolah lebih tinggi lagi yang kuimpikan.
ada seorang tetangga di kampung menyampari saya dan mengatakan kenapa kamu tidak kulia,saya dengan lantang mengucapkan " saya tidak punya biaya untuk sekolah..sambil di ucapkan dengar raut muka yang sedih & kesal bercampur malu.
si tetangga pun langsung menawari saya kerja dengan dia,saya pun langsung menyetujui pekerjaan tersebut karena dalam hatiku ini adalah penawaran rejeki.

2 komentar: